Tanggal: 8 Februari 2026

Perayaan: Hari Minggu Biasa V

Warna Liturgi: Hijau

📖 Bacaan Pertama

Yes. 58:7-10

supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.


🎵 Mazmur Tanggapan

Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil.

Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.

Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.

Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.

Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya.

Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan.


📖 Bacaan Kedua

1Kor. 2:1-5

Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.

Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.

Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.

Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh,

supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.


✝️ Bacaan Injil

Matius 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Perkataan itu jugalah yang diceritakan perempuan itu kepada Potifar, katanya: “Hamba orang Ibrani yang kaubawa ke mari itu datang kepadaku untuk mempermainkan aku.

Tetapi ketika aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannya bajunya padaku, lalu ia lari ke luar.”

Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya.

Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.

Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.

Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.

Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

Renungan Harian Hari Ini dan Injil 8 Februari 2026

Yesaya menegaskan bahwa ibadah sejati tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan kasih kepada sesama. Memberi roti kepada orang lapar, memberi tempat tinggal bagi yang miskin,

memberi pakaian kepada yang telanjang – itulah bentuk nyata dari terang yang menyinari kegelapan (Yes. 58:7-10). Tuhan tidak menuntut hal besar, tetapi meminta kita untuk peduli, hadir, dan berbagi dalam kehidupan bersama.

Dalam Injil, Yesus berkata. “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:13-14). Garam memberi rasa, terang menghalau gelap – dua gambaran sederhana, namun maknanya sungguh mendalam.

Kita dipanggil menjadi orang Kristen yang membawa pengaruh positif: menebar harapan, menyuarakan kebenaran, dan menolak kejahatan dalam bentuk apa pun, termasuk korupsi, hoaks, rasisme, dan budaya membuang yang semakin marak hari-hari ini.

Santo Paulus mengingatkan bahwa kekuatan pewartaan bukanlah pada kata-kata indah atau kepandaian manusia, melainkan pada kuasa Allah (1 Kor. 2:1-5). Maka, menjadi garam dan terang bukanlah soal kepandaian berbicara tentang Tuhan,

melainkan kesediaan untuk menjadi saksi melalui hidup sehari-hari – setia dalam kejujuran, murah hati dalam memberi, dan teguh dalam iman sekalipun dalam kelemahan.

Mazmur menegaskan bahwa orang benar akan dikenang selama-lamanya, karena ia murah hati dan menaruh belas kasihan. Hidupnya tidak goyah sebab ia percaya kepada Tuhan. Inilah hidup yang memberi rasa bagi dunia dan menjadi terang bagi sesama. Sebuah hidup yang sederhana, tetapi berdampak besar, karena dilandasi kasih yang tulus.

Di tengah dunia yang haus akan keadilan dan damai, kita dipanggil menjadi garam dan terang yang nyata – bukan hanya dalam kata, melainkan terutama dalam tindakan konkret: membela yang lemah, peduli pada lingkungan, jujur dalam bekerja, dan menjadi sahabat bagi yang tersingkir. Dengan itu, orang akan memuliakan Bapa di surga melalui hidup kita.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan dari Yesaya dan Injil Matius mengingatkan kita bahwa ibadah sejati tidak hanya terletak pada ritual dan doa, tetapi juga pada tindakan kasih kepada sesama. Dalam Yesaya 58:7-10, kita diajak untuk memecah roti bagi yang lapar, memberi tempat bagi yang miskin, dan menanggapi kebutuhan orang lain dengan kepedulian. Tindakan ini adalah manifestasi dari iman kita, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan memberikan harapan bagi yang terpinggirkan.

Injil Matius menegaskan identitas kita sebagai garam dan terang dunia, yang berarti kita harus menjadi pengaruh positif di sekitar kita. Garam memberi rasa, sedangkan terang menghalau kegelapan. Ini mengajak kita untuk terlibat dalam kehidupan sosial dengan menentang ketidakadilan, kebohongan, dan segala bentuk kejahatan. Dengan demikian, kita tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi juga menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari, menjadi teladan melalui tindakan konkret yang mencerminkan kasih Allah.

Mazmur mengingatkan bahwa orang yang murah hati dan penuh belas kasihan akan dikenang selamanya. Keberanian untuk berbagi, jujur, dan peduli pada sesama adalah prinsip-prinsip yang harus kita pegang. Dalam dunia yang sering kali gelap, kita dipanggil untuk menjadi cahaya yang menerangi, untuk membela yang lemah dan menjadi suara bagi yang tidak terdengar. Dengan cara ini, hidup kita tidak hanya menjadi berkat bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain, dan pada akhirnya memuliakan Bapa di surga.


🙏 Doa

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang siap diutus. Sabda hari ini meneguhkan panggilan untuk menjadi garam dan terang melalui hidup yang nyata dan sederhana. Dalam keheningan, mari kita menyerahkan niat, karya, dan relasi agar setiap tindakan sungguh memancarkan kasih bagi sesama.

Ya Bapa, ajaran para nabi menegaskan bahwa ibadah sejati berbuah dalam kepedulian. Gerakkan hati kami untuk peka terhadap lapar, kemiskinan, dan ketidakadilan di sekitar. Semoga tangan ini ringan berbagi, langkah ini berani mendekat, dan hidup ini menjadi terang yang menghalau kegelapan.

Yesus, sabda-Mu memanggil kami menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang menuntun jalan. Kuatkan kesaksian hidup agar tidak berhenti pada kata-kata. Jadikan kejujuran, keberanian melawan kejahatan, dan kesetiaan pada kebenaran sebagai wujud kasih yang nyata setiap hari.

Di tengah dunia yang haus akan keadilan dan damai, mampukan kami menjadi saksi yang rendah hati dan setia. Tumbuhkan iman yang kokoh, hati yang murah, dan keberanian untuk membela yang lemah. Semoga hidup sederhana kami memuliakan nama-Mu dan membawa harapan bagi banyak orang. Amin.

Ya Tuhan, jadikanlah hidup kami sebagai garam dan terang yang memberi harapan dan kebaikan bagi dunia. Amin.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram

Artikel Lainnya