Tanggal: 7 Januari 2026
Perayaan: Raimundus dr Penyafort
Warna Liturgi: Putih
📖 Bacaan Pertama
1Yoh. 4:11-18
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.
Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.
Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
🎵 Mazmur Tanggapan
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
Dan kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti!
Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya!
Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;
ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin.
✝️ Bacaan Injil
Markus 6:45-52
Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.
Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.
Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat.
Dan ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka.
Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,
sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung,
sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Iman kita teruji terutama saat kita sedang dalam kesulitan hidup. Rasa takut terhadap situasi tertentu kerap kali membuat kita tidak nyaman. Jika kita takut, di sana segala pikiran terhadap kemungkinan-kemungkinan buruk akan mengganggu situasi batin kita.
Perasaan takut itu sering kali membuat kita mudah mengalah dengan keadaan, putus asa dan merasa seolah-olah tidak lagi punya pegangan hidup.
Para murid dalam cerita Injil hari ini mengalami ketakutan, sebab badai angin sakal mengombang-ambingkan perahu mereka. Dalam ketakutan itu, Yesus hadir dan berseru, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Namun, para murid tak mengerti dan tidak mampu melihat dan mengalami kehadiran Yesus dalam situasi tersebut. Mereka bahkan menganggap Dia sebagai hantu.
Dalam perahu kehidupan ini, kita tidak bisa menghindar dari cobaan-cobaan berupa guncangan angin sakal atau badai yang setiap saat terjadi. Rasa takut yang berlebihan sering kali membuat kita mudah berprasangka buruk, mudah goyah sehingga sulit melihat dan melakukan kebaikan yang telah Tuhan perlihatkan kepada kita.
Semoga kita selalu yakin bahwa Tuhan akan selalu menenangkan suasana batin kita dan membebaskan kita dari ketakutan. Memilih teguh beriman kepada-Nya berarti menjadikan Dia penopang di setiap tantangan hidup kita.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan pertama dari 1 Yohanes mengingatkan kita tentang pentingnya kasih dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus. Kasih yang berasal dari Allah tidak hanya menjadi sumber kekuatan tetapi juga menjadi panggilan bagi kita untuk saling mengasihi. Ketika kita mengalami kesulitan dan ketakutan, kasih ini menjadi penopang yang mengingatkan kita bahwa Allah selalu bersama kita, meskipun kita tidak dapat melihat-Nya secara fisik. Kasih-Nya yang sempurna mengusir ketakutan dan memberikan keberanian di tengah badai kehidupan.
Injil Markus menggambarkan bagaimana para murid menghadapi ketakutan saat perahu mereka terombang-ambing oleh badai. Dalam situasi ini, kehadiran Yesus yang berjalan di atas air menjadi simbol harapan dan peneguhan iman. Mereka yang terjebak dalam ketakutan tidak dapat mengenali-Nya, yang menunjukkan bahwa ketakutan dapat membutakan kita dari melihat pertolongan Tuhan. Pesan ini mengajak kita untuk membuka mata hati kita agar dapat melihat kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, terutama saat menghadapi tantangan.
Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan tantangan. Iman kita sering kali teruji ketika badai kehidupan datang. Namun, dengan mengandalkan kasih dan kehadiran Tuhan, kita dapat menemukan ketenangan dan kekuatan untuk melangkah maju. Dalam setiap guncangan, marilah kita tetap teguh beriman, karena Yesus selalu siap menyapa kita dengan pesan, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Ketika kita tetap berada dalam kasih-Nya, kita akan menemukan ketenangan meski badai menerpa.
Artikel Lainnya
-
6 menit bacaan
-
Renungan 5 Februari 2026, Kesetiaan dalam Perutusan Sejati
6 menit bacaan -
Renungan 4 Februari 2026, Membuka Hati untuk Kasih Allah
7 menit bacaan -
Renungan 3 Februari 2026, Belas Kasih yang Mengubah Hidup
9 menit bacaan -
Renungan 1 Februari 2026, Kebahagiaan dalam Kerendahan Hati
9 menit bacaan -
Renungan 31 Januari 2026, Iman yang Tenang di Tengah Badai
8 menit bacaan