Tanggal: 9 Februari 2026
Perayaan: Hari Biasa
Warna Liturgi: Hijau
📖 Bacaan Pertama
1Raj. 3:4-13
Pada waktu itu raja Salomo menyuruh para tua-tua Israel dan semua kepala suku, yakni para pemimpin puak orang Israel, berkumpul di hadapannya di Yerusalem, untuk mengangkut tabut perjanjian TUHAN dari kota Daud, yaitu Sion.
Maka pada hari raya di bulan Etanim, yakni bulan ketujuh, berkumpullah di hadapan raja Salomo semua orang Israel.
Setelah semua tua-tua Israel datang, maka imam-imam mengangkat tabut itu.
Mereka mengangkut tabut TUHAN dan Kemah Pertemuan dan segala barang kudus yang ada dalam kemah itu; semuanya itu diangkut oleh imam-imam dan orang-orang Lewi.
Tetapi raja Salomo dan segenap umat Israel yang sudah berkumpul di hadapannya, berdiri bersama-sama dengan dia di depan tabut itu, dan mempersembahkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya.
Kemudian imam-imam membawa tabut perjanjian TUHAN itu ke tempatnya, di ruang belakang rumah itu, di tempat maha kudus, tepat di bawah sayap kerub-kerub;
sebab kerub-kerub itu mengembangkan kedua sayapnya di atas tempat tabut itu, sehingga kerub-kerub itu menudungi tabut serta kayu-kayu pengusungnya dari atas.
Dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh batu yang diletakkan Musa ke dalamnya di gunung Horeb, yakni loh-loh batu bertuliskan perjanjian yang diadakan TUHAN dengan orang Israel pada waktu perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir.
Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN,
sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN.
Pada waktu itu berkatalah Salomo: “TUHAN telah menetapkan matahari di langit, tetapi Ia memutuskan untuk diam dalam kekelaman.
Sekarang, aku telah mendirikan rumah kediaman bagi-Mu, tempat Engkau menetap selama-lamanya.”
🎵 Mazmur Tanggapan
Mazmur 132:6-7.8-10
Memang kita telah mendengar tentang itu di Efrata, telah mendapatnya di padang Yaar.
“Mari kita pergi ke kediaman-Nya, sujud menyembah pada tumpuan kaki-Nya.”
Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!
Biarlah imam-imam-Mu berpakaian kebenaran, dan bersorak-sorai orang-orang yang Kaukasihi!
Oleh karena Daud, hamba-Mu, janganlah Engkau menolak orang yang Kauurapi!
✝️ Bacaan Injil
Markus 6:53-56
Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ.
Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus.
Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.
Ke mana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Dalam bacaan pertama, kita melihat momen penuh kekhusyukan: Tabut Perjanjian yang melambangkan kehadiran Tuhan dibawa ke Bait Suci. Ketika tabut diletakkan di tempat kudus, kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu dalam bentuk awan (1 Raj. 8:10-11).
Peristiwa ini menegaskan bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai sumber hidup dan kekuatan.
Dalam Injil, Yesus hadir langsung di tengah kerumunan orang yang sakit dan menderita. Mereka datang dengan harapan, dan Yesus menyambut mereka dengan kasih – menyembuhkan, memulihkan, dan membawa harapan baru (Mrk. 6:53-56).
Kehadiran-Nya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyentuh dan menghidupkan. Di mana pun la hadir, hidup berubah.
Allah yang sama hadir juga dalam hidup kita sekarang. Bukan hanya di tempat ibadah, melainkan juga di rumah, sekolah, tempat kerja, dan di antara orang-orang kecil yang menderita Kita dipanggil untuk menjadi “tempat tinggal Allah”:
menghadirkan kasih, penghiburan, dan harapan bagi sesama. Kehadiran kita seharusnya membuat orang merasa diperhatikan, bukan diabaikan.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan pertama dari 1 Raja-Raja menggambarkan momen bersejarah saat Tabut Perjanjian dibawa ke Bait Suci, simbol kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Momen ini menggugah kesadaran kita akan pentingnya kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari. Ketika tabut diletakkan di tempat kudus, awan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu, menunjukkan bahwa Allah bukan hanya simbol atau ide, tetapi sumber hidup yang nyata dan penuh kuasa. Dalam konteks kita, kehadiran Allah mengajak kita untuk merasakan dan menyaksikan kasih-Nya yang terus membimbing kehidupan kita.
Dalam bacaan Injil dari Markus, kita melihat bagaimana Yesus, sebagai perwujudan Allah, hadir di tengah kerumunan orang yang sakit dan menderita. Mereka datang dengan pengharapan, dan Yesus menyambut mereka dengan kasih, menyembuhkan dan memberikan harapan baru. Ini menegaskan bahwa kehadiran-Nya tidak hanya untuk menghakimi, tetapi untuk menyentuh dan memulihkan kehidupan kita. Hal ini mengingatkan kita bahwa, dalam kehidupan sehari-hari, kita juga dapat menjadi saluran kasih dan harapan bagi orang-orang di sekitar kita, terutama mereka yang menderita.
Di mana pun kita berada—di rumah, tempat kerja, atau di tengah masyarakat—kita dipanggil untuk menjadi ‘tempat tinggal Allah’. Kita harus menghadirkan kasih, penghiburan, dan harapan kepada sesama kita. Kehadiran kita seharusnya memberi makna dan perhatian kepada orang lain, menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa diperhatikan dan dihargai. Melalui tindakan kecil kita, kita dapat menjadi perpanjangan tangan Allah, membawa kehadiran-Nya ke dalam dunia yang sering kali gelap dan penuh penderitaan.
Artikel Lainnya
-
Renungan 5 Februari 2026, Kesetiaan dalam Perutusan Sejati
6 menit bacaan -
Renungan 4 Februari 2026, Membuka Hati untuk Kasih Allah
7 menit bacaan -
Renungan 3 Februari 2026, Belas Kasih yang Mengubah Hidup
9 menit bacaan -
Renungan 1 Februari 2026, Kebahagiaan dalam Kerendahan Hati
9 menit bacaan -
Renungan 31 Januari 2026, Iman yang Tenang di Tengah Badai
7 menit bacaan -
Renungan 30 Januari 2026, Benih Kerajaan dalam Kesederhanaan
8 menit bacaan